Badrus; Potensi Besar PMII yang Hilang

Oleh; Putut Dairobi

Sekonyong-konyong tenggorokanku terasa kelu, badan ini seketika lemas bergetar kencang mendengar suara lirih di HP mungilku. “Badrus, salah satu kader terbaik PMII Universitas Balitar Blitar telah meninggal dunia” tutur ,Izzudin yang kebetulan adalah tetangga Badrus itu. Subhanallah, antara percaya dan tidak aku seperti orang bodoh seketika mendengar berita tersebut, betapa tidak; Badrus yang pagi tadi di rumahku dengan senyum khasnya masih tergambar jelas dalam benakku. Dan kini ia dikabarkan telah tiada, sesaat setelah kecelakaan sepeda motor sekitar jam 15.00 WIB. Hati ini serasa masih tak bisa menerima, tak ku sangka hari itu sabtu 19 maret 2011 adalah perjumpaan terakhirku dengannya, Sesekali kutepuk pipi pucat ini “Mengapa tak ada firasat apapun” gumamku. Janjinya untuk menemuiku di kantor “Kalifa Society” waktu itu, kini tinggal janji belaka yang tak mungkin lagi ia tepati. Jalan Raya Satrean Kanigoro adalah menjadi saksi bisu tempat dimana sahabat yang kemarin sering makan, tidur, dan berdiskusi bersamaku mengalami kecelakaan hingga menjadi lantaran terpisahnya nyawa dari raganya. Tak ada seorangpun yang melihat langsung seperti apa kronologis terjadinya tabrakan tersebut. Badrus yang setelah dari rumahku pagi itu tampak tergesa-gesa berpamitan, “Ini mau ada acara di Jingglong Sutojayan Pak” tuturnya padaku sambil menuntun motor Supra kesayangannya. Sempat kulihat kardus yang ia bawa penuh dengan jamur tiram, karena aku memang tahu kalau temanku itu mau memberikan pelatihan tentang pembuatan jamur di desa tersebut. Sabtu itu meski beberapa saat rintik-rintik hujan telah mengguyuri sebagian daerah bumi Bung Karno, namun cuaca masih terasa sangat panas kurasa. Dan ternyata apa yang aku rasakan tersebut sama persis dengan apa yang dirasakan oleh teman-temanku peserta sekolah jurnalisme sastrawi di kantor Kalifa Society. Waktu itu jam menunjukkan kira-kira pukul 18.45 WIB, peserta sekolah jurnalisme sastrawi terlihat masih asyik praktek menulis deskripsi pengamatan. Namun keceriaan itu hilang seketika sesaat setelah ku beri kabar bahwa badrus yang rencananya mau ikut jadi peserta sekolah jurnalisme bersama kita telah mengalami kecelakaan, dan sekarang jenazahnya masih di RS. Mardiwaluyo. Apa, bagaimana, dimana, kapan, seperti apa, kontan pertanyaan-pertanyanpun berjejal menyerbuku, semua bulukudukku semakin merinding dibuatnya. “Ayo sekarang kita ke RS aja”, ajakku yang sebenarnya juga masih tak percaya dengan kabar meninggalnya Badrus. Sesampainya di RS. Mardiwaloyo saya dan teman-teman langsung bergegas menuju kamar jenazah, hati inipun semakin berdebar kencang melihat kerumunan orang-orang yang terdiam seakan sedang menahan kesedihan yang dalam. “Jenazah sedang dimandikan di gedung utara mas” kata seseorang yang mengaku salah satu keluarga jenazah sambil menunjuk sebuah ruangan yang tak begitu jauh dari tempatku berdiri. Ruangan cat putih dengan lampu yang tak begitu terang itu sangat hambar kurasa, langkahku terhenti seketika tepat di depan pintu yang terbuka itu. Astaghfirullah kulihat jelas wajah sahabatku yang tergolek kaku di atas meja sedang dimandikan beberapa orang. Fikiran ini berkecamuk tak menentu, tak kuasa aku melihatnya lebih lama lagi. Akupun memilih keluar dari ruangan itu dan duduk lunglai di atas keramik putih dekat pintu keluar, “Badrus benar-benar meninggal” gumaman hati kecilku. Kulihat teman-temanku yang juga tertunduk lemas di dekatku, sangat terlihat jelas wajah mereka yang muram telah menyimpan rasa kehilangan yang dalam. “Badrus tidak mati” tutur Rudianto kepala sekolah jurnalisme satrawi kalifa yang juga ikut bersama saya dan teman-teman di ruang jenazah itu. Jangan biarkan ia mati, karena memang ia tak layak mati, kematiannya tak lain hanya jasadnya belaka dan melainkan inspirasinya masih selalu hidup bersama kita semua. Setidaknya demikianlah Rudianto seorang intelektual organic asal Selopuro menyadarkan aku dan teman-teman yang terlarut dalam kesedihan mengenang almarhum Badrus. Kiranya masih sangat segar dalam ingatan semua kader PMII di Blitar raya, sosok seorang Badrus asal desa Kebonsari kecamatan Garum ini. Tubuh yang berperawakan agak kurus dengan tinggi badan + 160 Cm, berambut lurus dan berkulit kuning yang masih tercatat sebagai mahasiswa aktif di Fakultas pertanian Universitas Islam Balitar Blitar. Muhammad Badrus Sholeh demikianlah nama panjangnya, tidak bisa dipungkiri banyak sekali organisasi dan teman dekat yang merasa kehilangan. Tak lain dan tak bukan adalah karena pemuda yang punya jiwa sosial tinggi ini selain mempunyai komunikasi baik dan egaliter terhadap teman ia juga punya hobbi berorganisasi, terbukti dengan namanya yang pernah dan atau masih tercatat sebagai pengurus di beberapa organisasi kepemudaan di Blitar, seperti; PK PMII UIB, BEM UIB, LDK UIB, PC PMII Blitar, IPNU dan lain sebagainya. Di mata para sahabat PMII, setidaknya ada banyak hal kelebihan seorang sosok badrus ini yang menjadi kenangan indah dan inspiratif. Misalkan diantaranya adalah; Jiwa perjuangannya yang menyala-nyala terlihat jelas dalam setiap langkahnya, keuletan dalam mendampingi komisariat PMII UIB membuahkan hasil besar, komisariat yang masih tercatat sebagai komisariat persiapan di tahun 2008 telah resmi menjadi komisariat penuh pada tahun 2009 kemarin. “mas badrus itu sangat telaten ngopeni kader” itulah komentar Ilmi ketua komisariat PMII UIB periode 2011-2012. Sikap yang tak bisa marah sangat melekat sekali pada aktifis yang satu ini, hal tersebut jelas menunjukkan kecerdasan emosionalnya yang matang. Kehati-hatiannya dalam mengambil keputusan lebih disebabkan karena analisis pertimbangan yang mendalam, sehingga sangat wajar jika banyak sahabat yang meminta pertimbangan atas beberapa masalah kepadanya. Seperti disampaikan oleh seorang sahabatnya “saya sering meminta pertimbangan berkaitan masalah pribadi maupun organisasi kepada Badrus” tutur Yahya Mustofa presiden BEM Universitas Balitar Blitar periode 2011-2012. Tersenyum dan diam, itulah sekilas gambaran pemuda badrus saat mengikuti forum-forum diskusi kecil di PMII. Namun dibalik kediamannya itu ternyata ia mencerna topik dan alur dari diskusi yang kemudian ia simpulkan secara kritis, “muara dari segala pengetahuan itu haruslah transformatif” sebuah kesimpulannya yang bagus dalam kenanganku saat berdiskusi dengannya. Kesenangan berorganisasi dan ditambah dengan kemampuannya berkomunikasi menjadikan Badrus ini bukan sosok penggembira, melainkan ia mampu menempatkan diri menjadi aktor penting di setiap organisasi yang pernah diikutinya. Seorang yang “sedikit bicara, banyak kerja” tutur Imam Fauzi seorang aktifis PMII asal STKIP, sebuah filosofi tipologi seseorang yang lebih mengedepankan tindakan nyata dalam membahasakan gagasan, tukasnya. Jika ada kader PMII Blitar dalam dekade terahir yang mempunyai kemampuan komunikasi baik, maka badruslah salah satunya. Nada bicara yang datar ditambah dengan logika berfikir yang sistematis menjadikan dirinya seorang lawan bicara yang menyenangkan di mataku. Mungkin itupula yang menyebabkan ia punya kedekatan lebih dengan kader PMII ataupun dengan alumni PMII di Blitar. Impiannya sangat besar berbanding lurus dengan pendiriannya yang kokoh, Apa yang telah ia rencanakan hampir selalu ia wujudkan dalam tindakan nyata, “Badrus itu orangnya visioner” kenang Sodiqul Anwar teman karib yang juga tetangga dekat Badrus. Tak ubahnya mahasiswa lain di Blitar yang rata-rata adalah mahasiswa karir, atau mahasiswa yang selain kuliah ia juga bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri. Demikian itu juga Badrus menjalani hari-harinya, disela-sela jadwal kuliah yang padat dan agenda organisasi yang penuh, Badrus juga punya usaha budidaya jamur di rumahnya, “Badrus itu kreatif dan mandiri mas” tutur Safi’i kakak ipar badrus. Hatiku masih terasa geli sa’at mengenang sosok itu, “biar aku saja yang jadi ketua OC nya” demikianlah sebuah tawaran tegas dari almarhum Badrus pada suatu rapat pembentukan panitia Mapaba PMII. Di saat para sahabat berebut lari untuk menjadi panitia, malah ia memasangkan badan untuk memikul posisi yang paling merepotkan itu. Baginya mampu memikul tanggung jawab kaderisasi yang sekalius juga menjadi amanat organisasi adalah sebuah kehormatan dan kewajiban. Namun kini Badrus dan semua potensi besarnya tinggal kenangan, “PMII berdukacita atas meninggalnnya salahsatu kader terbaik PC PMII Blitar Raya” Tutur Muchlisin ketua umum PMII Cabang blitar periode 2009-2010 sesaat setelah jenazah badrus dikebumikan, semoga almarhum adalah termasuk khusnul khotimah Amin. Tukasnya Tak banyak kiranya anggota PMII yang benar-benar bisa menjadi kader idiologis, setidaknya almarhum ini adalah bisa menjadi salah satu gambaran dari kader pelopor di PMII. “Badrus-Badrus, mengapa begitu cepat kau menghilang” bisik nuraniku yang masih saja bergejolak. Tidak bisa dipungkiri banyak sahabat yang merasa kehilangan dirinya, tapi apa mau dikata jika Tuhan mempunyai kehendak lain kepadanya, “semua yang terjadi memang harus terjadi, itulah suratan taqdir” gumam hati kecilku meredam emosi. Selamat jalan sahabat, inspirasimu akan selalu hidup bersamaku, selamanya. Graha Kalifa, 20 maret 2011

Tentang kalifasociety

KALIFA Society Adalah komunitas yang mewadahi individu dan kiprah alumni PMII di Blitar untuk mengembangkan diri, komunitas dan masyarakat. BENTUK ORGANISASI Model Organisasi Komunitas yang Berbadan Hukum Perkumpulan.VISI KALIFA Society: Menjadi komunitas kritis-partisipatif untuk mewujudkan masyarakat yang mutamaddin. MISI KALIFA Society: Melakukan kajian, penelitian, penerbitan, pendidikan, pelatihan, advokasi serta kegiatan lainnya dengan mengedepankan berfikir kritis, bertindak partisipatif untuk mewujudkan komunitas dan masyarakat yang berdaya, beradab, mandiri dan berdaulat. BENTUK ORGANISASI: Model Organisasi Komunitas yang Berbadan Hukum Perkumpulan. Untuk mewujudkan VISI dan melaksanakan MISI, KALIFA akan menjalin hubungan kemitraan dengan pihak manapun, berdasar prinsip kesetaraan dan saling membawa kemanfaatan. AKTIVITAS DAN RUANG LINGKUP: Kajian, Penelitian, Pendidikan Pelatihan, Penerbitan dan Usaha Ekonomi yang didedikasikan pada upaya pengembangan komunitas dan masyarakat, khususnya di Bidang Capacity Building, Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan Hidup, Kebijakan Publik dan Ekonomi Kerakyatan. ORIENTASI KALIFA: Segala aktivitas KALIFA diupayakan dapat memberikan kontribusi positif bagi adanya perubahan yang lebih baik pada tingkat individu anggota, komunitas dan masyarakat.
Pos ini dipublikasikan di History. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s