Etnografi: Model Pendekatan Kajian Budaya

Preambule
Dalam kontestasi budaya global ini mobilitas masyarakat semakin tinggi, percepatan alur kebudayaan semakin tidak bisa dilihat dengan model angka-angka kuantitatif. Kondisi ini menjadikan model penelitian kualitatif semakin menjadi arus utama dalam melihat kondisi sosial di masyarakat. Kemampuannya menghasilkan produk analisis yang mendalam sejalan dengan alur dan settingnya, diakui sebagai paradigma yang patut diperhitungkan dalam rangka melihat, mengatahui dan menghadirkan refleksi bagi kajian budaya pada konteks zamannya. Beberapa metode penelitian berbasis paradigma kualitatif ini diantaranya adalah fenomenologi, analisis wacana, studi kasus, semiotik dan etnografi kini mulai dilirik para ilmuwan maupun peneliti baik mahasiswa.
Etnografi yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini merupakan salah satu metode penelitian kualitatif. Dalam kajian budaya, etnografi digunakan untuk meneliti perilaku-perilaku manusia berkaitan dengan perkembangan masyarakat dalam setting sosial dan budaya tertentu, misalnya penelitian mengenai agama Jawa yang dilakukan oleh Clifford Geertz (1955), ataupun penelitian mengenai anak-anak jalanan, pengamen dan lain sebagainya. Metode penelitian etnografi dianggap mampu menggali informasi secara mendalam dengan sumber-sumber yang luas. Dengan teknik “observatory participant”, etnografi menjadi sebuah metode penelitian yang unik karena mengharuskan partisipasi peneliti secara langsung dalam sebuah masyarakat atau komunitas sosial tertentu. Yang lebih menarik, sejatinya metode ini merupakan akar dari lahirnya ilmu antropologi yang kental dengan kajian masyaraktnya itu.
Tidak seberuntung analisis wacana, studi kasus dan semiotik, selama ini belum banyak buku-buku khusus yang membahas metode penelitian etnografi dalam budaya, khususnya di Indonesia. Pun metode ini juga belum terlalu banyak diadaptasi oleh para peneliti dalam kajian budaya walaupun diakui sumbangsihnya dalam menyediakan refleksi mengenai masyarakat dan perkembangan budaya terhitung tidak sedikit. Beberapa keunikan dan fenomena yang mengikuti eksistensi metode penelitian etnografi dalam budaya ini membuat penulis meliriknya sebagai salah satu metode yang layak dikenalkan, dikembangkan dan dirujuk dalam penelitian budaya. Untuk itu, dengan mengacu pada beberapa referensi buku, penulis akan memetakan secara ringkas metode penelitian etnografi.
Etnografi adalah berasal dari kata ethnos yang berarti bangsa dan graphein yang berarti tulisan atau uraian. Jadi berdasarkan asal katanya, etnografi berarti tulisan tentang/ mengenai bangsa. Namun pengertian tentang etnografi tidak hanya sampai sebatas itu. Burhan Bungin (2008:220) mengatakan etnografi merupakan embrio dari antropologi. Artinya etnografi lahir dari antropologi di mana jika kita berbicara etnografi maka kita tidak lepas dari antropologi setidaknya kita sudah mempelajari dasar dari antropologi. Etnografi merupakan ciri khas antropologi artinya etnografi merupakan metode penelitian lapangan asli dari antropologi (Marzali 2005:42).
Metode Etnografi menurut Suwardi Endaswara (2006) merupakan penelitian untuk mendeskripsikan kebudayaan sebagaimana adanya. Artinya, dalam penelitan ini peran peneliti hanya sebagai pencatat dan atau pengamat dari sebuah peristiwa yang berlangsung tanpa campur tangan peneliti untuk mengarahkan peristiwa tersebut.
Supaya bisa memberikan pemahaman yang lebih detil tentang metode etnografi, berikut saya sampaikan beberapa buku dan penulis yang banyak mengulas tetang etnografi. Pada prinsipnya mereka memiliki pemahaman yang sama terkait dengan etnografi, namun ada beberapa perbedaan yang tidak begitu prinsipil. Namun beberapa perbedaan pemahaman itu perlu saya sampaikan agar pembaca tidak terjerembab dalam model-model tertentu dalam etnografi.

Metode Etnografi Model James Spradley
Secara harafiah, etnografi berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian, dianggap sebagai asal-usul ilmu antropologi. Margareth Mead menegaskan, “Anthropology as a science is entirely dependent upon field work records made by individuals within living societies. Dalam bukunya “Metode Etnografi”, James Spardley mengungkap perjalanan etnografi dari mula-mula sampai pada bentuk etnografi baru. Kemudian dia sendiri juga memberikan langkah-langkah praktis untuk mengadakan penelitian etnografi yang disebutnya sebagai etnografi baru.
Etnografi mula-mula (akhir abad ke-19). Etnografi mula-mula dilakukan untuk membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa manusia mulai muncul di permukaan bumi sampai ke masa terkini. Tak ubahnya analisis wacana, mereka ilmuwan antropologi pada waktu itu melakukan kajian etnografi melalui tulisan-tulisan dan referensi dari perpustakaan yang telah ada tanpa terjun ke lapangan. Namun, pada akhir abad ke-19, legalitas penelitian semacam ini mulai dipertanyakan karena tidak ada fakta yang mendukung interpretasi para peneliti. Akhirnya, muncul pemikiran baru bahwa seorang antropolog harus melihat sendiri alias berada dalam kelompok masyarakat yang menjadi obyek kajiannya.
Etnografi Modern (1915-1925). Dipelopori oleh antropolog sosial Inggris, Radclifffe Brown dan B. Malinowski, etnografi modern dibedakan dengan etnografi mula-mula berdasarkan ciri penting, yakni mereka tidak terlalu mamandang hal-ikhwal yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan suatu kelompok masyarakat (Spradley, 1997). Perhatian utama mereka adalah pada kehidupan masa kini, yaitu tentang the way of life masayarakat tersebut. Menurut pandangan dua antropolog ini tujuan etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya suatu masyarakat. Untuk itu peneliti tidak cukup hanya melakukan wawancara, namun hendaknya berada bersama informan sambil melakukan observasi.
Ethnografi Baru Generasi Pertama (1960-an). Berakar dari ranah antropologi kognitif, “etnografi baru” memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Analisis dalam penelitian ini tidak didasarkan semata-mata pada interpretasi peneliti tetapi merupakan susunan pikiran dari anggota masyarakat yang dikorek keluar oleh peneliti. Karena tujuannya adalah untuk menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran dari suatu masyarakat, maka pemahaman peneliti akan studi bahasa menjadi sangat penting dalam metode penelitian ini. “Pengumpulan riwayat hidup atau suatu strategi campuran, bahasa akan muncul dalam setiap fase dalam proses penelitian ini.
Ethnografi Baru Generasi Kedua. Inilah metode penelitian hasil sintesis pemikiran Spardley yang dipaparkan dalam bukunya yang berjudul “Metode Etnografi”. Secara lebih spesifik, Spardley mendefinisikan budaya sebagai yang diamati dalam etnografi. Selain itu juga sebagai proses belajar yang digunakan untuk megintepretasikan dunia sekeliling mereka dan menyusun strategi perilaku untuk menghadapinya. Dalam pandangannya ini, Spardley tidak lagi menganggap etnografi sebagai metode untuk meneliti “Other culture”, masyarakat kecil yang terisolasi, namun juga masyarakat kita sendiri, masyarakat multicultural di seluruh dunia. Pemikiran ini kemudian dia rangkum dalam “Alur Penelitian Maju Bertahap” yang terdiri atas lima ,prinsip, yakni:
Peneliti dianjurkan hanya menggunakan satu teknik pengumpulan data; mengenali langkah-langkah pokok dalam teknik tersebut., misalnya 12 langkah pokok dalam wawancara etnografi dari Spardley.; setiap langkah pokok dijalankakan secra berurutan; praktik dan latihan harus selalu dilakukan; memberikan problem solving sebagai tanggung jawab sosialnya, bukan lagi ilmu untuk ilmu.
Inti dari “Etnografi Baru” Spardley ini adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami melalui kebudayaan mereka. Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat kesimpulan budaya manusia dari tiga sumber: (1) dari hal yang dikatakan orang, (2) dari cara orang bertidak, (3) dari berbagai artefak yang digunakan. Namun, dalam buku ini, Spradley memfokuskan secara khusus pembuatan keksimpulan dari apa yang dikatakan orang. Wawancara etnografik dianggap lebih mampu menjelajah susunan pemikiran masyarakat yang sedang diamati.
Sebagai metode penelitian kualitatif, etnografi dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Spradley mengungkapkan beberapa tujuan penelitian etnografi. Pertama, untuk memahami rumpun manusia. Dalam hal ini, etnografi berperan dalam menginformasikan teori-teori ikatan budaya. Menawarkan suatu strategi yang baik sekali untuk menemukan teori grounded. Sebagai contoh, etnografi mengenai anak-anak dari lingkungan kebudayaan minoritas di Amerika Serikat yang berhasil di sekolah dapat mengembangkan teori grounded mengenai penyelenggaraan sekolah. Etnografi juga berperan untuk membantu memahami masyarakat yang kompleks. Kedua, etnografi ditujukan guna melayani manusia. Tujuan ini berkaitan dengan prinsip ke lima yang dikemukakan Spradley di atas, yakni meyuguhkan problem solving bagi permasalahan di masyarakat, bukan hanya sekadar ilmu untuk ilmu.
Ada beberapa konsep yang menjadi fondasi bagi metode penelitian etnografi ini. Pertama, Spradley mengungkapkan pentingnya membahas konsep bahasa, baik dalam melakukan proses penelitian maupun saat menuliskan hasilnya dalam bentuk yang verbal. Sesungguhnya adalah penting bagi peneliti untuk mempelajari bahasa setempat, namun, Spredley telah menawarkan sebuah cara, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan etnografis. Konsep kedua adalah informan. Etnografer bekerja sama dengan informan untuk menghasilkan sebuah deskripsi kebudayaan. Informan merupakan sumber informasi; secara harafiah, mereka menjadi guru bagi etnografer (Spradley, 1997: 35).
Sisa dari buku yang ditulis Spradley ini mengungkap tentang langkah-langkah melakukan wawancara etnografis sebagai penyari kesimpulan penelitian dengan metode etnografi. Langkah pertama adalah menetapkan seorang informan. Ada lima syarat yang disarankan Spradley untuk memilih informan yang baik, yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non-analitis. Langkah kedua adalah melakukan wawancara etnografis. Wawancara etnografis merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus (ibid, hal. 71). Tiga unsur yang penting dalam wawancara etnografis adalah tujuan yang eksplisit, penjelasan dan pertanyaannya yang bersifat etnografis. Langkah selanjutnya adalah membuat catatan etnografis. Sebuah catatan etnografis meliputi catatan lapangan, alat perekam gambar, artefak dan benda lain yang mendokumentasikan suasana budaya yang dipelajari. Langkah ke empat adalah mengajukan pertayaan deskriptif. Pertanyaan deskriptif mengambil “keuntungan dari kekuatan bahasa untuk menafsirkan setting” (frake 1964a: 143 dalam Spradley, 1991: 108). Etnografer perlu untuk mengetahui paling tidak satu setting yang di dalamnya informan melakukan aktivitas rutinnya. Langkah ke lima adalah melakukan analisis wawancara etnografis. Analisis ini merupakan penyelidikan berbagai bagian sebagaimana yang dikonseptualisasikan oleh informan. Langkah ke enam, yakni membuat analisis domain. Analisis ini dilakukan untuk mencari domain awal yang memfokuskan pada domain-domain yang merupakan nama-nama benda. Langkah ketujuh ditempuh dengan mengajukan pertanyaan struktural yang merupakan tahap lanjut setelah mengidentifikasi domain. Langkah selanjutnya adalah membuat analisis taksonomik. Langkah ke sembilan yakni mengajukan pertanyaan kontras dimana makna sebuah simbol diyakini daoat ditemukan dengan menemukan bagaimana sebuah simbol berbeda dari simbol-simbol yang lain. Langkah ke sepuluh membuat analisis komponen. Analisis komponen merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya. Langkah ke sebelas menemukan tema-tema budaya. Langkah terakhirnya yakni menulis sebuah etnografi.
Pemikiran Spradley ini memberi pemetaan historis yang jelas mengenai metode penelitian etnografi selain mamberi gambaran mengenai langkah-langkahnya. Dengan cerdas, Spradley memaparkan bahwa etnografi baru bukan hanya dapat diadaptasi sebagai metode penelitian dalam antropologi melainkan dapat digunakan secara luas pada ranah ilmu yang lain. Penulis meletakkan pemikiran Spradley ini di bagian awal dengan maksud agar kita memperoleh pemahaman awal mengenai metode etnografi yang masih murni, umum, yang berasal dari akarnya, yakni ilmu antropologi.

Etnografi dalam Kacamata Deddy Mulyana
Dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Kualitatif, Deddy Mulyana (2001) menjelaskan istilah Etnografi berasal dari kata ethno (bangsa) dan graphy (menguraikan). Etnografi yang akarnya adalah ilmu antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Menurut pemikiran yang dirangkum oleh Deddy Mulyana ini, etnografi bertujuan menguraikan suatau budaya secara menyeluruh, yakni semua aspek budaya baik yang bersifat material, seperti artefak budaya dan yang bersifat abstrak, seperti pengalaman, kepervcayaan norma, dan system nilai kelompok yang diteliti. Sedang Frey et al., (1992: 7 dalam Mulyana, 2001: 161) mengatakan bahwa etnografi berguna untuk meneliti perilaku manusia dalam lingkungan spesifik alamiah. Uraian tebal (thick description) berdasarkan pengamatan yang terlibat (Observatory participant) merupakan ciri utama etnografi (ibid: 161-162).
Pengamatan yang terlibat menekankan logika penemuan (logic of discovery), suatu proses yang bertujuan menyarankan konsep-konsep atau membangun teori berdasarkan realitas nyata manusia. Metode ini mematahkan keagungan metode eksprimen dan survei dengan asumsi bahwa mengamati manusia tidak dapat dalam sebuah laboratorium karena akan membiaskan perilaku mereka. Pengamatan hendaknya dilakukan secara langsung dalam habitat hidup mereka yang alami.
Denzin menkategorikan jenis pengamat, sbb: participant as observer, complete participant, observer as participant serta complete observer (Ibid: 176). Etnografer harus pandai memainkan peranan dalam berbagai situasi karena hubungan baik antara peneliti dengan informaan merupakan kunci penting keberhasilan penelitian. Untuk mewujudkan hubungan baik ini diperlukan ketrampilan, kepekaan dan seni. Selain ketrampilan menulis, beberapa taktik yang disarankan adalah taktik “mencuri-dengar” (eavesdropping) dan taktik “pelacak” (tracer), yakni mengikuti seseorang dalam melakukan serangkaian kegiatan normalnya selama periode waktu tertentu.
Hampir sama dengan pemikiran sebelumnya, tulisan Deddy Mulyana ini mengukuhkan wawancara secara mendalam dan tak terstruktur sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian etnografi ini. Kedua jenis wawancara ini adalah metode yang selaras dengan perspektif interaksionisme simbolik, karena memungkinkan pihak yang diteliti untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan lingkungannya, tidak sekadar manjawab pertanyaan peneliti. Pada tahap ini, wawancara hendaknya dilakukan secara santai dan informal dengan tetap berpengang pada pedoman wawancara yang telah dibuat peneliti.
Walaupun pemaparannya tidak jauh berbeda dengan Spradley di atas, namun Deddy Mulyana lebih menekankan pendekatan interaksionisme simbolik untuk membaca sebuah fenomena menggunakan metode etnografi ini. Menurut perspektif interaksionisme simbolik, transformasi identitas menyangkut perubahan psikologis. Pelakunya menjadi individu yang berbeda dari sebelumnya (Ibid: 230). Hal ini menjadi perhatian dalam penggunaan metode penelitian etnografi. Peneliti disarankan untuk mampu merunut riwayat sejarah informan sebelum melakukan penelitian, atau yang sering dikenal dengan analisis dokumen.

Etnografi ala Jensen and Jankowski
Dalam bukunya “A Hand Book of Methodologies For Mass Communication Research”, Jensen dan Jankowski menempatkan etnografi sebagai sebuah pendekatan. Etnografi tidak dilihat sebagai alat untuk mengumpulkan data, tetapi sebuah cara untuk mendekati data dalam meneliti fenomena komunikasi. Menurut Hammersley dan Atkinson (1983: 2 dalam Jansen and jankowski, 1991: 153), etnografi dapat dipahami sebagai
Simply one social research method, albeit an unusual one, drawing on a wide range of sources information. The erhnographer participates in people’s lives for an extended period of time, watching what happens, listeninf to what is said, asking questions, collecting whatever data are available to throw light on issues with which he or she concerned
Etnografi secara alami dipandang sebagai penyelidikan mengenai aktivitas hidup manusia. Oleh Geertz disebut sebagai “informal logic of actual life”. Berbasis pandangan ini, seharusnya etnografi mampu menghasilkan deskripsi secara detail dari pengalaman kongkrit dengan latar budaya dan aturan sosial tertentu, pola-pola yang ada di dalamnya bukan berpatokan pada hukum yang universal (ibid: 8). Namun kenyataannya, etnografi menjadi istilah yang totemic. Misalnya, dalam kajian mengenai audiens akhir-akhir ini, tiba-tiba semua orang menjadi seorang etnografer.
Hal ini menggugah Lull untuk meneriakkan kembali tanggung jawab sebagai seorang peneliti etnografi, yakni; pengamatan dan pencatatan secara langsung tingkah laku yang rutin dari seluruh karakteristik individu yang dipelajari; pengamatan harus dilakukan secara langsung dalam setting masyarakat yang diteliti sebagai laboratorium alaminya. Kesimpulan harus digambarkan secara hati-hati, tidak gegabah, perlu juga memberikan perlakuan spesial terhadap hasil pengamatan dalam konteks yang berbeda-beda.
Strategi penelitian kualitatif, seperti Etnografi ini dirancang untuk memasuki ceruk-ceruk wilayah kehidupan alami serta aktivitas tertentu yang menjadi karakter masyarakat yang akan diteliti. Kekuatan utama etnografi adalah contextual understanding yang timbul dari hubungan antaraspek yang berbeda dari fenomena yang diamati. Namun, yang masih dianggap sebagai kelemahannya ialah interpretasi peneliti dalam menggambarkan hasil pengamatan. Karena peneliti barada bersama dengan para informan, maka peneliti dituntut untuk reflektif dan mampu menjauhkan diri dari kekerdilan interpretasi, ketidaklengkapan observasi dan dan gap- gap yang ada dalam struktur yang diamati.
Sedang penelitian etnografi mulai dikembangkan, debat mengenai etnografi postmodern terpusat di USA pun masih berlangsung. Perdebatan itu bermuara pada hubungan antara siapa yang megnamati serta siapa yang diamati, dan kewenangan dasar seorang etnografer untuk membuktikan sebuah pengalaman kultural orang lain. Sesungguhnya ini adalah perdebatan klasik dalam kajian etnografi selama bertahun-tahun, namun memang segala pendekatan yang berpangkal pada paradigma subyektivis harus menemukan jalannya sendiri. Menanggapi perdebatan tersebut, Greetz dengan bijak mengatakan bahwa being there as the founding authority of the ethnographic account.. Walaupun mendapat cercaan dari penganut positivis, etnografi toh telah membantu kita dalam memahami praktik-praktik menonton televisi dan pengkonsumsian media lainnya yang tidak dapat dihindari selalu terjadi dalam konteks kehidupan tsehari-hari.

Sebuah Tinjauan
Etnografi berisikan menceritakan tentang suku bangsa atau suatu masyarakat yang diceritakan yaitu mengenai kebudayaan suku atau masyarakat tersebut. Dalam membuat etnografi, seorang penulis etnografi (etnografer) selalu hidup atau tinggal bersama dengan masyarakat yang ditelitinya yang lamanya tidak dapat dipastikan, ada yang berbulan-bulan dan ada juga sampai bertahun-tahun. Sewaktu meneliti masyarakat seorang etnografer biasanya melakukan pendekatan secara holistik dan mendiskripsikannya secara mendalam atau mendetil untuk memproleh native’s point of view. Serta metode pengumpulan data yang digunakan biasanya wawancara mendalam (depth interview) dan observasi partisipasi di mana metode pengumpulan data ini sangat sesuai dengan tujuan awal yaitu mendeskripsiakan secara mendalam.
Etnografi, yang akarnya adalah ilmu antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Seperti layaknya penelitian kualitatif lainnya, etnografi saat ini sudah mampu mengambil hati para ilmuwan komunikasi terutama berkaitan dengan penelitian yang mengungkap praktik-praktik pengkonsumsian media, perilaku dalam perkembangan teknologi komunikasi, dll. Metode penelitian etnografi menyuguhkan refleksi yang mendalam bagi kajian-kajian semacam itu.
Metode etnografi memiliki ciri unik yang membedakannya dengan metode penelitian kualitatif lainnya, yakni: observatory participant sebagai teknik pengumpulan data, jangka waktu penelitian yang relatif lama, berada dalam setting tertentu, wawancara yang mendalam dan tak terstruktur serta mengikutsertakan interpretasi penelitinya. Yang terakhir ini sepertinya masih menjadi perdebatan dengan penganut positivis. Untuk kasus-kasus tertentu, kemampuan interpretasi peneliti diragukan tanpa mereka sadari, sejatinya interpretasi ilmuwan-ilmuwan etnografi berperan besar dalam menyajikan kesadaran-kesadaran kritis atas perilaku bermedia masyarakat.
Ketidakberuntungan metode etnografi dibanding analisis wacana, semiotik serta studi kasus adalah karena penelitian ini memerlukan waktu yang sangat lama, tenaga yang besar karena peneliti harus bergabung dengan informan, ketrampilan berkomunikasi yang terlatih, serta kemampuan menuliskan interpretasi dengan baik. Di sisi lain, metode etnografi telah membuktikan bahwa sebagai metode penelitian kualitatif, ia mampu melaklukan analisis yang lebih mendalam serta menyajikan refleksi kritis secara detil dalam lingkup mikro sebuah kehidupan manusia. Bagaimanapun juga, metode penelitian etnografi hanyalah sebuah cara yang dalam aplikasinya tentu tidak dapat meninggalkan metode penelitian lainnya, bahkan metode penelitian kuantitatif sekalipun.

Referensi
Bungin, Burhan.2008. Penelitian Kualitatif, Kencana, Jakarta.
Endaswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : UGM Press.
Jensen, Klaus Bruhn and Nicholas W. Jankowski. 1991. A Hand Book of Methodologies For Mass Communication research. Washington: Wadworth Publishing Company.
Marzali, Amri.2005. Antropologi dan Pembangunan Indonesia, Kencana, Jakarta.
Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT remaja Rosdakarya
Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: PT tiara Wacana.

METODE ETNOGRAFI

Pendahuluan
Etnografi merupakan salah satu metode kualitatif yang bertugas untuk mendeskripsikan suatu kebudayaan, dan tujuannya untuk memahami pandangan hidup dari sudut sumber /pelakunya
Informan
Adalah seorang pembicara asli yang berbicara dengan mengulang-ulang kata-kata, frasa, dan kalimat dalam bahasa atau dialeknya sebagai model imitasi dan sumber informasi. Ia juga dikenal sebagai guru dari etnografer.
a. Beda informan, subyek, penelitian, dan responden dalam penelitian
b. Informan merupakan sumber informasi mengenai apa yang mereka ketahui tentang budaya atau kehidupannya, dan tugas peneliti adalah mendeskripsikan apa uyang diketahui informan untuk disampaikan kepada sejawat
c. Subyek merupakan pelaku utama, dan dari data ini peneliti menguji hipotesisnya. Ia merupakan pelaku utama, dan biasanya untuk menguji
Responden adalah siapa saja yang menjadwab daftar pertanyaan dari peneliti.
Ciri-cirinya:
1) mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti: interview (wawancara), percakapan biasa, observasi, dan dokumen.
2) mempelajari perilaku dalam konteks keseharian, bukan kondisi eksperimental
3) pada tahap awal, peneliti menggunakan pendekatan tidak terstruktur dalam mengumpulkan data, dan dari isu kunci yang duidapatkan, peneliti bisa melanjutkan ke dalam analisis yang semakin dalam.
4) Melakukan studi mendalam terhadap satu atau dua situasi.

Pengumpulan Data
Caranya : observasi (partisipan, non-partisipan), interview (terstruktur dan tidak terstruktur), dokumentasi.
Data bisa berupa :
a. Catatan lapangan (field note), bahasanya campuran antara bahasa pelaku dan etnografer.
b. hasil interview, bahasanya adalah bahasa informan
c. dokumen,

Langkah penelitian etnografi
1. menetapkan seorang informan
2. melakukan wawancara terhadap informan
3. membuat catatan etnografis
4. mengajukan pertanyaan desktriptif
5. melakukan analisis wawancara etnografis
6. membuat analisis domain
7. mengajukan pertanyaan struktural
8. membuat analisis taksonomik
9. mengajukan pertanyaan kontrak
10. membuat analisis komponen
11. menemukan tema budaya.
12. menulis etnografi

Analisis data
Analisis dilakukan secara analisis naratif yang ditekankan pada tema dan ilustrasi. Oleh karena itu tugas peneliti yang utama adalah memberikan penjelasan mengenai suatu peristiwa yang didasarkan pada pemahaman peneliti mengenai peristiwa tersebut, sehingga pembaca mengetahui dan merasakan ide dan perasaan dari orang yang melakukannya.

Menulis Laporan Etnografis
1. Memilih khalayak pembaca
2. Memilih tesis yaitu suatu pesan utama yang diinginkan penulis
3. Membuat daftar topik dan membuat garis besarnya.
4. Menulis naskah kasar untuk masing-masing bagian.
5. Merevisi garis besar dan membuat anak judul
6. Mengedit naskah kasar
7. Menuliskan pengantar dan kesimpulan
8. Menuliskan kembali tulisan mengenai contoh
9. Menulis naskah akhir.

Dalam bukunya Metode Etnografi, James P. Spradley mengemukakan bahwa etnografi merupakan pekerjaaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Adapun tujuan dari aktivitas ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Pandangan Spradley ini berdasarkan pendapat Bronislaw Malinowski yang memandang bahwa tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Mengacu pada pemahaman itu, Spradley kemudian mengatakan bahwa etnografi tidak hanya mempelajari masyarakat, akan tetapi lebih jauh lagi yakni etnografi juga belajar dari masyarakat.
Lebih jauh, Spradley mengungkapkan bahwa makna-makna yang bisa diamati oleh peneliti etnografi terbagi kedalam dua wilayah yakni makna yang terekspresikan dan makna disembunyikan. Makna yang terekspresikan secara langsung dapat diamati lewat bahasa, sedangkan yang tersembunyi bisa diamati melalui kata-kata secara tidak langsung dan juga melalui perilaku dari sumber yang diamati.
Dalam pengertiannya, Metode Etnografi menurut Suwardi Endaswara merupakan penelitian untuk mendeskripsikan kebudayaan sebagaimana adanya. Artinya, dalam penelitan ini peran peneliti hanya sebagai pencatat dan atau pengamat dari sebuah peristiwa yang berlangsung tanpa campur tangan peneliti untuk mengarahkan peristiwa tersebut.

About these ads

Tentang kalifasociety

KALIFA Society Adalah komunitas yang mewadahi individu dan kiprah alumni PMII di Blitar untuk mengembangkan diri, komunitas dan masyarakat. BENTUK ORGANISASI Model Organisasi Komunitas yang Berbadan Hukum Perkumpulan.VISI KALIFA Society: Menjadi komunitas kritis-partisipatif untuk mewujudkan masyarakat yang mutamaddin. MISI KALIFA Society: Melakukan kajian, penelitian, penerbitan, pendidikan, pelatihan, advokasi serta kegiatan lainnya dengan mengedepankan berfikir kritis, bertindak partisipatif untuk mewujudkan komunitas dan masyarakat yang berdaya, beradab, mandiri dan berdaulat. BENTUK ORGANISASI: Model Organisasi Komunitas yang Berbadan Hukum Perkumpulan. Untuk mewujudkan VISI dan melaksanakan MISI, KALIFA akan menjalin hubungan kemitraan dengan pihak manapun, berdasar prinsip kesetaraan dan saling membawa kemanfaatan. AKTIVITAS DAN RUANG LINGKUP: Kajian, Penelitian, Pendidikan Pelatihan, Penerbitan dan Usaha Ekonomi yang didedikasikan pada upaya pengembangan komunitas dan masyarakat, khususnya di Bidang Capacity Building, Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan Hidup, Kebijakan Publik dan Ekonomi Kerakyatan. ORIENTASI KALIFA: Segala aktivitas KALIFA diupayakan dapat memberikan kontribusi positif bagi adanya perubahan yang lebih baik pada tingkat individu anggota, komunitas dan masyarakat.
Tulisan ini dipublikasikan di Ngobrol. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s